JALAN BESTARI



---

Bagaimana pesan-pesan yang disimpan selama ini terus saja dikeletuskan dalam jiwa yang terdalam. Bagaimana pula suara-suara ritmis terus saja dipelikkan dan ditandukkan dalam atap yang tak terendam oleh sisi gelap dan terang. Apakah kita harus memesan jalan, atau kebestarian yang harus lestari hingga abadi?

---

DETIK DEMI DETIK

1/

Hisaplah rokokmu yang tersisa dari pelarian

Jangan sampai kau sesakkan nadi-nadi yang selalu setia padamu.


Jangan lagi kembali mengorek dan mengoyaknya

biarkan melepuh dan tempakan pada langit


Sanggakan saja,

pilu dan pelikmu.


2/

Kau berkobar lagi

Membalas satu per satu api yang menjadi-jadi

Kau balas dengam anarkis

seperti mereka yang tak kenal manusiawi


Kau berontak lagi,

lebih menyeramkan dari gumpalan api yang menyerbu pilu

Tanpa nama yang tak pernah terlewatkan,

tuntas dan lunas sudah.


3/

Raib, terkenang

Rapi, terkesima


Redup, merengkuh

Runtuh, mengabadi


Sampai sedikit, terbanyak tak tentu

Sampai sejalan, tak meratap dan merayap


Sampai akhirnya,

tiba pada peluk-Nya.


Karawang, 4 Oktober 2020

---

16.55


Tak ada jalan pulang,

mondar mandir sembari menebar kepekatan


Tak ada pintu masuk untuk tenang,

sekadar menepi di perempatan jalan untuk menundukkan keterpaksaan


Hanya sekadar mencari,

hingga abadi.


Karawang, 5 Oktober 2020

---

SUDAH PUKUL SEBELAS, KAWAN


Aku ingin membakar hujan,

di kala tropis mulai belajar sastra,

dan musim salju mengadu pada filosofis.


Aku ingin mengubur langit,

kala cemara tak lagi melukis,

kala sore hanya dinikmati oleh pegiat seni menatap.


Aku ingin menelan rembulan,

petaka, sandiwara dan tak berperihewani

luruh, gemuruh, runtuh, sanitasi kalbu tak berekologi

ternyata hanya berisikan suwiratabudhaya.


Gadis datang,

menimba lamunan,

remuk tak bertulang,

sendu sedan membawaku malang,

memaksaku untuk pulang:

Tuhan sudah menunggumu, sayang.


Sukabumi, 6 Desember 2020

---

ARASTALIKA

(n) sebuah keadaan antara harapan dan realitas semakin mengerucut dan menghilang.


Bagaimana mestinya untuk menjadi belalang,

tak hentinya menghiasi rerumputan,

hingga sebelah tubuhnya terbuang.


Bagaimana mestinya menjadi sebuah kalimat,

yang terhimpit oleh batu-batu yang mengkarat,

sampai detik ini tak sanggup untuk berbuat.


Bagaimana harusnya tentukan arah waktu,

pada sebelas yang tak kunjung dini hari,

pada malam yang tak mau bertingkah empat puluh pagi.


Semua itu hanyalah persepsi basa-basi,

di reruntuhan dan tidak tahunya,

di penindasan tanpa bernama,

dihempaskannya adalah nyata.


Sukabumi, 16 Desember 2020

---

TENANGLAH, KASIH


Untuk apa kau menunda kebisuan, tanpa bait dan puisi yang tertinggal di antara sayuku. Untuk apa kau menambah air hujan dalam kelopak indahmu, namun nyatanya dekapan tangan yang menjagamu luruh oleh tanah tak berdosa.


Mekarlah, kasih. Kau di ujung persemaian yang perlu kau abadikan, di tengah fana dan nestapa yang kususun yang hanya membuatmu sakit hati, menyisakan kelabu dan orkestra belantara hingga disepikannya ragaku, sampai dicelupkannya jiwaku dalam sukmamu.


Telah pergi, kekasihmu, kini dia bermesra dengan Tuhan.


Sukabumi, 22 Desember 2020

---

INGAT AKU SEBELUM MENJELANG SUBUH, KASIH


Telah lama aku menghilang,

dan tak sanggup lagi mengulang,

adakalanya hilang,

adakalanya pulang.


Dimanakah engkau, mentari

sepuluh sajak telah terkukuh sampai di ujung nadi,

silih berganti hari demi hari,

sampai denyutku tak bisa kuasai.


Rembulan menangis meratapi,

keindahan mulai menyorot pagi,

dikibarkannya cahaya malam menuju pagi,

ternyata semuanya takkan abadi.


Malam tetap malam,

kau bilang sia-sia untuk mengais kelam,

apalagi sampai kita tak mengerti tenggelam,

lalu apa guna kita saling menyulam?


Entah, kita mesti bergerak lambat

Kasih, terpanggil dalam alunan cepat,

kasih, dimanakah dirimu?

kupanggili sampai merombak hujan, menyapu cakrawala yang memainkan nada sendu.


Sukabumi, 25 Desember 2020

---

*BERLAYAR SEMAKIN JAUH*

Sejenak menghening dalam semua kerinduan,
dalam lamunan sesekali namamu termaktub di telapak tanganku,
barangkali tak ada hampa atau kudus yang selalu tercurahkan,
barangkali tak sesampanya menitih kaki-kaki yang mudahnya disia-siakan.

Semesta mengharumkan pahit nan iris,
seraya mendurjanakan celaka kenang nestapa,
di haribaan dan pangkuanmu hanyalah kata-kata buatku bisu,
tertanam sudah waktu yang terus memburu,
apalagi sampai menjelma batu-batu biru membiusku
Lalu sampai mana lambat laun menghujani gerimis?
Lalu sampai kapan kekotoran semakin layangkan harmonis?
Lalu sampai sepanjang rembulan yang mana harusnya mencipta dayu?
Lalu sampai seberapa jelitanya separuh tubuhku mengkaktuskan luka?

Obituari telah tercipta,
sedetik itu pula sempurna,
sesederhana sampai membuka mata,
bahwa tangannya tak pernah hamparkan bara; cinta.

Sukabumi, 26 Desember 2020

Comments