JALAN BESTARI

Image
--- Bagaimana pesan-pesan yang disimpan selama ini terus saja dikeletuskan dalam jiwa yang terdalam. Bagaimana pula suara-suara ritmis terus saja dipelikkan dan ditandukkan dalam atap yang tak terendam oleh sisi gelap dan terang. Apakah kita harus memesan jalan, atau kebestarian yang harus lestari hingga abadi? --- DETIK DEMI DETIK 1/ Hisaplah rokokmu yang tersisa dari pelarian Jangan sampai kau sesakkan nadi-nadi yang selalu setia padamu. Jangan lagi kembali mengorek dan mengoyaknya biarkan melepuh dan tempakan pada langit Sanggakan saja, pilu dan pelikmu. 2/ Kau berkobar lagi Membalas satu per satu api yang menjadi-jadi Kau balas dengam anarkis seperti mereka yang tak kenal manusiawi Kau berontak lagi, lebih menyeramkan dari gumpalan api yang menyerbu pilu Tanpa nama yang tak pernah terlewatkan, tuntas dan lunas sudah. 3/ Raib, terkenang Rapi, terkesima Redup, merengkuh Runtuh, mengabadi Sampai sedikit, terbanyak tak tentu Sampai sejalan, tak meratap dan merayap Sampai akhirnya, tiba...

KEPADA MALAM YANG MENDERU-DERU - ARIF SANTOSO


KEPADA MALAM YANG MENDERU-DERU

Kau puitiskan anginmu
pada senja, dedaunan gugur
nestapa huru-hara
dan binatang yang mengusik tidurku

Kau tenangkan semuanya
yang meracau di antara embun pagi
yang berkeliaran di eloknya senja
yang bermusik secara serentak di nadiku ; katakanlah malam ini aku tenggelam di jiwamu
kusaksikan malam ini untuk berhenti bercanda tawa dengan hujan.

Sukabumi, 3 September 2019
Arif Santoso

Comments

Popular posts from this blog

JALAN BESTARI