JALAN BESTARI
--- Bagaimana pesan-pesan yang disimpan selama ini terus saja dikeletuskan dalam jiwa yang terdalam. Bagaimana pula suara-suara ritmis terus saja dipelikkan dan ditandukkan dalam atap yang tak terendam oleh sisi gelap dan terang. Apakah kita harus memesan jalan, atau kebestarian yang harus lestari hingga abadi? --- DETIK DEMI DETIK 1/ Hisaplah rokokmu yang tersisa dari pelarian Jangan sampai kau sesakkan nadi-nadi yang selalu setia padamu. Jangan lagi kembali mengorek dan mengoyaknya biarkan melepuh dan tempakan pada langit Sanggakan saja, pilu dan pelikmu. 2/ Kau berkobar lagi Membalas satu per satu api yang menjadi-jadi Kau balas dengam anarkis seperti mereka yang tak kenal manusiawi Kau berontak lagi, lebih menyeramkan dari gumpalan api yang menyerbu pilu Tanpa nama yang tak pernah terlewatkan, tuntas dan lunas sudah. 3/ Raib, terkenang Rapi, terkesima Redup, merengkuh Runtuh, mengabadi Sampai sedikit, terbanyak tak tentu Sampai sejalan, tak meratap dan merayap Sampai akhirnya, tiba...